Teman Tuli Pakai SIBI atau BISINDO, ya? Ini Penjelasannya
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia. Namun, apa jadinya jika kita tidak dapat mendengar dan berbicara?
Tunarungu merupakan sebutan di Indonesia untuk menyebut seseorang yang mempunyai hambatan atau gangguan pendengaran baik sebagian atau seluruhnya. Mereka menyebut diri mereka dengan sebutan Teman Tuli, alih-alih dengan tunarungu. Hal ini disebabkan karena dalam kata Tuna ada makna kecacatan, kurang atau tidak memiliki. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi saat ingin menyampaikan ide, ekspresi, bahkan perasaan.
Bahasa isyarat merupakan alat komunikasi yang menggunakan gestur tubuh seperti wajah, tangan dan sebagainya. Di Indonesia, bahasa isyarat dibagi menjadi dua: SIBI dan BISINDO. SIBI atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia merupakan sistem alat komunikasi yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. SIBI digunakan dalam media pembelajaran pada konteks pendidikan formal yang biasanya digunakan oleh guru atau instruktur. Dalam penggunaannya, SIBI harus menggunakan satu tangan untuk mentransfer pesan dengan mitra tutur, baik sesama teman tuli atau seseorang yang mengerti bahasa isyarat.
Sedangkan, BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia merupakan alat komunikasi yang diciptakan secara alami oleh teman tuli sendiri dan dijadikan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Karena terjadi secara alamiah, perbedaan budaya menyebabkan terjadinya variasi dalam penggunaan BISINDO di beberapa daerah Indonesia. Berbanding terbalik dengan SIBI, BISINDO harus menggunakan kedua tangan untuk mentransfer pesan dengan mitra tutur, baik sesama teman tuli atau seseorang yang mengerti bahasa isyarat.
Menariknya, penggunaan BISINDO lebih sering digunakan dibanding SIBI. Hal ini muncul karena adanya beberapa perbedaan saat menggunakan bahasa isyarat. SIBI lebih fokus pada ranah pendidikan formal yang lebih condong pada bahasa baku. Sedangkan BISINDO, dapat digunakan dalam berbagai situasi dan tidak kaku. Saat mengungkapkan informasi yang bersifat emosional, BISINDO lebih ekspresif dibanding SIBI yang memiliki keterbatasan ekspresi. Seperti halnya kata “makan”, dalam BISINDO dipraktekan dengan gerakan seperti menyuapkan makanan dengan tangan ke dalam mulut. Sementara, dalam SIBI kata “makan” dipraktekan dengan menggabungkan abjad atau huruf kata makan menggunakan gerak tangan, seperti mengeja kata namun dalam bahasa isyarat.
Struktur BISINDO tidak memiliki imbuhan seperti awalan dan akhiran dalam kalimat, sehingga lebih sederhana dan lebih mudah digunakan. Lain halnya dengan SIBI yang menggunakan bahasa isyarat seperti bahasa lisan indonesia pada umumnya, memiliki imbuhan seperti awalan dan akhiran dalam kalimat yang mengakibatkan lebih sulit dalam menyampaikan informasi. Lebih lanjut, BISINDO lebih dianggap menghormati budaya teman tuli karena lebih sering menggunakan BISINDO dan tidak sedikit teman tuli yang kurang mengerti atau tidak hapal dengan SIBI.
Meski SIBI masih digunakan secara resmi dalam konteks pendidikan dan acara kenegaraan, banyak Teman Tuli merasa kurang dihargai ketika SIBI digunakan, karena sebagian besar dari mereka lebih akrab dengan BISINDO. Misalnya, pada Upacara Kemerdekaan Indonesia ke-75, penerjemah bahasa isyarat menggunakan SIBI. Hal ini sempat menuai kritik dari komunitas Tuli karena dianggap tidak merepresentasikan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Mengutip dari Tempo, Frans Soesanto, Koordinator Juru Bahasa Isyarat dari Indonesian Sign Language Interpreters (Inasli), menyatakan bahwa struktur kalimat komunitas Tuli berbeda dengan tata bahasa orang mendengar. Menurutnya, jika tata bahasa orang mendengar diterjemahkan langsung ke bahasa isyarat, hasilnya menjadi rancu.
SIBI dan BISINDO sama-sama hadir sebagai jembatan komunikasi bagi Teman Tuli, tetapi keduanya memiliki peran yang berbeda. SIBI lebih menekankan pada tata bahasa Indonesia sehingga banyak digunakan dalam pendidikan formal, sementara BISINDO tumbuh dan berkembang secara alami dalam komunitas Tuli dan lebih dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang lebih ekspresif dan fleksibel. Bagi Teman Tuli, BISINDO bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga bagian dari ciri khas dan budaya. Oleh karena itu, memahami dan menghargai BISINDO sangat penting agar tercipta masyarakat yang lebih terbuka, setara, dan menghargai keberagaman bahasa.
Source:
Https://www.tempo.co/politik/beda-bahasa-isyarat-sibi-yang-digunakan-pemerintah-dengan-bisindo-yang-alami-590206
https://bentaracampus.ac.id/sibi-dan-bisindo-sama-atau-beda-mengenal-perbedaan-dua-bahasa-isyarat-di-indonesia/