Tantangan \'Tidak Berkomentar\' di Kolom Komentar: Mengapa Bahasa Generasi Z Penuh Penghakiman tetap

SHARE

   Kolom komentar di media sosial seharusnya menjadi ruang publik digital yang dinamis, tempat terjadinya pertukaran ide, kritik yang membangun, dan diskusi yang mencerahkan. Namun, belakangan ini, muncul pola komunikasi yang menarik, khususnya di kalangan Generasi Z (Gen Z), yaitu maraknya komentar yang bernada penghakiman (judgement) yang kuat, tetapi sangat sedikit yang memicu diskusi substansial atau berbobot. Fenomena ini disindir dengan istilah "Tidak Berkomentar" (No Komen), sebab komentar yang ada lebih menonjolkan sentimen daripada analisis. 

   Dari Berdebat Menjadi Menghakimi: Evolusi Bahasa Digital 

   Pergeseran ini terjadi karena adanya perubahan dalam cara Gen Z—generasi yang tumbuh sepenuhnya di bawah dominasi algoritma dan umpan (feed) yang serba cepat—mengonsumsi dan memproduksi informasi. 

   Keterbatasan Karakter dan Budaya Mudah Dibaca Cepat (Scannable) 

   Platform seperti TikTok, X, dan Instagram memprioritaskan informasi yang singkat, padat, dan mudah dibaca cepat. Komentar yang panjang dan berbobot sering dianggap membuang waktu. Sebaliknya, komentar yang berisi penghakiman atau penilaian ("Gagal sekali, sih!" atau "Nuansanya murahan"), meskipun ringkas, langsung menarik perhatian dan memicu reaksi emosional. 

   Bahasa Slang dan Sentimen yang Intens 

   Bahasa Gen Z di media sosial kaya akan slang, singkatan, dan istilah khas yang cepat menjadi viral (hype). Bahasa ini efektif untuk menyampaikan sentimen dan ekspresi diri, tetapi kurang memadai untuk menjelaskan argumen yang kompleks. Sebagai contoh, menggunakan kata seperti "cringe," "flop," atau "cancel" merupakan bentuk penghakiman cepat yang langsung mengkotakkan subjek, sehingga menghentikan peluang untuk analisis lebih lanjut. 

 

   Psikologi di Balik Minimnya Bobot Diskusi 

   Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga dengan psikologi interaksi digital. 

   Ruang Gema (Echo Chamber) dan Kebutuhan Validasi 

   Algoritma media sosial cenderung menciptakan ruang gema, di mana pengguna hanya disajikan konten dan pandangan yang mereka setujui. Ketika Gen Z berkomentar, tujuannya sering kali bukan untuk berdiskusi dengan lawan bicara, melainkan untuk mencari validasi sosial dari kelompok internal (in-group) mereka. Komentar penghakiman yang disetujui akan mendatangkan suka (likes) dan pengikut (followers), yang secara psikologis lebih memuaskan daripada terlibat dalam debat panjang yang melelahkan. 

   Aktivisme Sekadar Pertunjukan (Performative Activism) dan Moralitas Instan 

   Sering kali, penghakiman muncul sebagai bentuk aktivisme sekadar pertunjukan—tindakan yang bertujuan menunjukkan bahwa seseorang berada di sisi moral yang benar, tanpa benar-benar melakukan tindakan nyata. Dengan cepat menghakimi sebuah konten sebagai 'salah' atau 'berbahaya,' penutur merasa sudah menunaikan tugas moralnya. Hal ini menghilangkan kebutuhan untuk berdiskusi mengenai akar masalah atau solusi yang berbobot. 

   Tantangan Terhadap Kualitas Wacana Publik 

   Dampak dari dominasi penghakiman instan ini merusak kualitas wacana publik secara keseluruhan. 

   Polarisasi dan Keengganan Mendengarkan 

   Komentar yang berupa penghakiman adalah komunikasi satu arah; ia menyatakan penilaian tanpa meninggalkan ruang untuk sanggahan atau penjelasan. Hal ini memicu polarisasi ekstrem. Ketika komentar dimulai dengan penghakiman yang tajam, pihak lain cenderung langsung bersikap defensif dan menutup diri, sehingga diskusi yang seharusnya terjadi sejak awal tidak pernah terwujud. 

   Budaya Ketakutan (Culture of Fear) 

   Maraknya penghakiman instan dan budaya cancel menciptakan budaya ketakutan, terutama di kalangan kreator konten dan tokoh publik. Mereka menjadi sangat berhati-hati dalam menyampaikan pendapat karena takut dihakimi secara cepat oleh massa digital. Akibatnya, diskusi yang sensitif atau kompleks cenderung dihindari, yang semakin memiskinkan keragaman topik dan kedalaman wacana di media sosial.