Seni dibalik Penerjemahan Sastra
Di tengah laju globalisasi dan kemajuan teknologi, kebutuhan akan penerjemahan lintas bahasa semakin krusial. Tak lagi terbatas pada urusan diplomatik atau akademik, kini penerjemahan merambah hampir ke semua bidang, dari dokumen hokum, laporan medis, kontrak bisnis dan lain sebagainya. Seiring itu, industri penerjemahan juga ikut terspesialisasi berdasarkan sektor, seperti keuangan, teknologi, farmasi, atau penerjemahan tersumpah.
Namun, di tengah perkembangan ini, penerjemahan sastra kerap terabaikan. Ia tidak dianggap mendesak dan jarang masuk proyek besar. Padahal, justru di sinilah terdapat nilai yang penting untuk diketahui. Penerjemahan sastra bukan sekedar alih bahasa, melainkan upaya penerjemah dalam menjembatani budaya, memperluas pandangan kemanusiaan, serta menjaga daya hidup suatu karya melintasi ruang dan waktu.
Penerjemahan sastra sering kali tidak menjadi prioritas layanan bahasa profesional,padahal bidang ini menyimpan bobot kultural yang tak bisa disepelekan. Untuk memahami kenapa ia tetap penting, kita perlu melihat peran sastra dalam kehidupan masyarakat dan periode tertentu.
Sastra menyimpan cerminan budaya, nilai, dan emosi pengarangnya. Dengan adanya penerjemahan, kita bisa membaca War and Peace karya Tolstoy tanpa harus bisa bahasa Rusia. Kita juga bisa melihat wajah Indonesia lewat Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Selain menjembatani bahasa dan budaya, penerjemahan sastra juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter. Karya sastra yang diterjemahkan membuka akses pembaca lintas budaya untuk belajar tentang empati, kejujuran, hingga nilai-nilai sosial yang terkandung dalam karya.
Data UNESCO menunjukkan bahwa karya sastra adalah salah satu kategori buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia. Ini membuktikan bahwa kebutuhan akan karya sastra lintas bahasa bersifat universal dan terus berkembang. Namun begitu, menghargai pentingnya sastra untuk diterjemahkan belum berarti prosesnya mudah. Justru dalam usaha menyampaikan pengalaman sastra kepada pembaca lintas bahasa, penerjemah dihadapkan pada tantangan yang jarang ditemui dalam penerjemahan teks- teks lain.
Salah satu tantangan utama adalah menjaga nuansa atau rasa bahasa. Kata-kata dalam karya sastra sering memiliki makna ganda, simbolik, atau bersifat metaforis. Sebagai contoh puisi Sapardi Djoko Damono: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api... Menerjemahkan ke bahasa lain tidak cukup dengan mengalihkan kata demi kata. Perlu upaya untuk tetap menyampaikan kedalaman emosional dan makna kulturalnya agar tidak kehilangan jiwa atau makna asli yang dimaksudkan pengarang.
Tantangan lain datang dari idiom lokal, budaya, atau konteks sosial yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. Dalam karya seperti Serat Centhini, banyak istilah dan ritual khas Jawa yang sulit diterjemahkan secara harfiah. Di sinilah penerjemah sastra perlu membuat pilihan cermat apakah akan menjelaskan lewat catatan kaki, menyesuaikan dengan konteks sasaran, atau mempertahankan bentuk aslinya.
Menghadapi tantangan seperti itu, peran penerjemah sastra pun jauh lebih kompleks dibandingkan penerjemah teknis lainya. Mereka bukan hanya pengalih bahasa, melainkan juga pencipta ulang nuansa, nada, dan emosi dari karya asli. Penerjemah sastra harus menangkap “jiwa” teks sumber dan membangun kembali teks dalam bahasa sasaran seolah-olah lahir dari budaya yang berbeda, tanpa menghilangkan esensinya. Proses ini membutuhkan kreativitas, dan pemahaman budaya yang tinggi.
Apa yang telah dicapai penerjemah sastra? Banyak karya yang berhasil menembus batas negara dan membuka perspektif baru. Misalnya, Haruki Murakami tak akan seterkenal sekarang di dunia Barat tanpa penerjemah seperti Jay Rubin dan Philip Gabriel. Di Indonesia, Max Lane dan Jennifer Lindsay berjasa besar dalam mengenalkan sastra Indonesia ke dunia.
Karya seperti Saman karya Ayu Utami yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda, menjadi contoh bagaimana sastra bisa memperkenalkan kritik sosial-politik Indonesia kepada pembaca dunia. Begitu pula puisi Jalaludin Rumi yang menjadi populer di Amerika Serikat berkat interpretasi Coleman Barks, meski ia tidak menerjemahkan langsung dari bahasa Persia.
Dengan semua dinamika tersebut, jelas bahwa penerjemahan sastra bukan sekadar aktivitas linguistik melainkan proses pertemuan antara teks dan makna kehidupan, antara bahasa dan budaya. Dalam dunia yang semakin terhubung, penerjemahan sastra berperan sebagai jembatan makna yang menghubungkan manusia lintas bahasa dan zaman, tanpa kehilangan keindahan dan nilai sosialnya.
Source:
https://jurnal.polinema.ac.id/index.php/jlt/article/view/193/85