SATU KATA, BERIBU MAKNA: INI BEDANYA POLISEMI, HOMONIM, HOMOGRAF, DAN HOMOFON. JANGAN KELIRU LAGI!

SHARE

      Pernah bingung waktu baca atau dengar satu kata tapi punya banyak arti? Atau pernah tertukar waktu ada dua kata yang pelafalannya sama, tapi ternyata artinya beda? Jangan khawatir, itu salah satu fenomena bahasa yang sering terjadi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena seperti ini memang sangat mudah dijumpai, misalnya saja dalam kata bisa dalam bahasa Indonesia dapat berarti racun ular atau mampu. Dalam bahasa Inggris juga kata run bukan hanya berarti lari, tapi bisa juga “menjalankan” atau “mengalir”.  

      Dalam dunia linguistik, fenomena ini dikategorikan lebih spesifik, loh. Kita bisa mengenal fenomena ini dengan sebutan polisemi, homonim, homograf, atau homofon. Itu semua penting, karena bisa saja salah mengartikan suatu kata kalau tidak sesuai dengan konteks. Keempatnya mirip-mirip, tapi berbeda. Loh, gimana? Mari bahas satu-satu biar gak bingung lagi! 

      Polisemi (Polysemy) 

      Polisemi adalah fenomena bahasa paling umum dijumpai. Kita bisa tahu polisemi terjadi dengan memerhatikan suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu, namun makna-maknanya masih ada kaitannya satu sama lain. Polisemi juga memiliki pelafalan dan pengejaan yang sama, loh. Coba lihat contoh ini: 

 

Dalam bahasa Indonesia: 

 

→ Kepala adalah salah satu bagian tubuh yang menopang otak. 

→ Ibu Saidah adalah Kepala Perusahaan keripik singkong. 

 
Kita bisa lihat melalui kata kepala ini bahwa konteks yang diberikan berbeda, tapi masih dalam satu rangkaian ide. Keduanya masih saling berkaitan dengan ide “bagian paling atas” atau “yang memimpin” 

 

Dalam bahasa Inggris: 

 

→ I need a paper for my work. 

→ They will publish a paper for an international journal. 

 

Secara harfiah, kata paper memang berarti kertas. Namun, para kalimat kedua, kata paper berarti artikel ilmiah sesuai dengan konteksnya. Ini juga mengindikasikan polisemi karena maknanya masih berkaitan, yaitu tentang lembaran tertulis. 

      Homonim (Homonymy) 

      Homonim adalah kebalikan dari polisemi, yang mana homonim adalah kata yang memiliki lebih dari satu makna, namun tidak saling berkaitan sama sekali. Kita bisa lihat contoh kalimat ini: 

 

Dalam bahasa Indonesia: 

→ Aku menutup jendela kamarku dengan rapat. 

→ Hari ini ada rapat bersama dengan klien baru. 

 

      Di kalimat pertama, kata rapat memiliki makna bahwa jendela ditutup dengan erat, sehingga tidak ada celah. Namun, berbanding terbalik dengan kalimat kedua, kata rapat memiliki arti pertemuan resmi. Hal ini ciri bahwa homonim memiliki pelafalan dan ejaan yang sama, namun maknanya dan idenya sangat jauh berbeda. 

 

Dalam bahasa Inggris: 

→ Well, this is the end of the day. 

→ You can fill your watering can at the well. 

 

Kata well pada kalimat pertama dapat diartikan sebagai “baiklah”. Tapi jika konteksnya berubah, kata tersebut juga bisa berubah menjadi “sumur”. Dua makna yang berbeda tersebut tidak saling berkaitan dan berhubungan, sehingga bisa dikategorikan sebagai homonim. 

 

      Homograf (Homograph) 

      Jika berbicara tentang homograf, yang perlu kita soroti adalah pada tulisannya. Jika tulisannya sama, namun maknanya berbeda, itu bisa disebut homograf. Namun, satu hal yang perlu difokuskan lagi adalah pada pelafalannya yang berbeda. Kita bisa lihat contoh berikut ini. 

 

Dalam bahasa Indonesia: 

→ Salah satu bahan untuk membuat salad adalah buah apel. 

→ Pagi ini kita melakukan apel harian. 

 

      Pada kejadian di kalimat pertama, kata apel merujuk pada salah satu jenis buah-buahan yang biasanya berwarna merah dan cara pelafalannya adalah /ap?l/. Namun, pada kalimat kedua, kata apel diartikan sebagai upacara atau perkumpulan di lapangan dan cara pelafalannya adalah /ap?l/.   

 

Dalam bahasa Inggris: 

→ You should bow to royal family to give them your respect. 

→ I have  a new bow, so I can train my archery skills. 

 

Dalam bahasa inggris, kita bisa temukan fenomena homofon pada kata bow yang memiliki arti “membungkuk” untuk menunjukkan rasa hormat seseorang pada orang lain, kemudian cara bacanya adalah /ba?/. Namun pada kalimat kedua, kata bow merujuk pada busur panah dan pelafalannya juga ikut berubah menjadi /bo?/.  

 

      Homofon (Homophone) 

   Jika semua klasifikasinya kebanyakan berfokus pada kata, homofon akan berfokus pada bunyinya. Jika bunyinya sama, tapi maknanya berbeda, itu juga berarti tanda dari fenomena homofon. Homofon juga biasanya memiliki perbedaan ejaan pada bentuk katanya. Mari lihat contoh di bawah ini. 

 

Dalam bahasa Indonesia: 

 

→ Perjuangan hari ini adalah pelajaran dari masa lalu. 

→ Pengumuman tersebut menyulut aksi massa. 

 

Di dalam bahasa Indonesia, kita bisa temukan pada kata digaris tebal pada kalimat di atas. Penyebutan kedua kata tersebut memang sama persis, namun jika di kalimat pertama merujuk pada periode waktu, pada kalimat kedua merujuk pada kerumunan banyak orang atau umumnya adalah besaran atau kuantitas benda. 

 

Dalam bahasa Inggris: 

 

→ I want to make an apple pie. 

→ I have two apples for you. 

→ I do love singing too. 

 

      Homofon dalam bahasa Inggris, tampaknya cukup banyak yang bisa ditemukan, contohnya seperti ketiga kalimat di atas. Semua pelafalannya terhadap semua kata yang dicetak tebal memang mirip, namun artinya berbeda di setiap konteks. Pada kalimat pertama, kata to merujuk pada fungsinya sebagai infinitive marker. Sedangkan pada kalimat kedua berarti angka numeral sebagai penanda kuantitas benda, namun pada kalimat ketiga bentuk katanya berfungsi sebagai adverb yang menunjukkan afirmasi. 

 

     Dalam kehidupan sehari-hari, aspek bahasa merupakan salah satu aspek penting yang perlu kita fokuskan, terutama pada fenomena polisemi, homonim, homograf, dan homofon. Fenomena tersebut menandakan kompleksitas dan keberagaman fenomena unik yang berkaitan dengan bahasa. Dengan mempelajari bagaimana fenomena tersebut bisa muncul dan mengetahui perbedaannya, kita bisa menggunakannya sesuai dengan konteks yang ada. Itu semua berguna agar tidak terjadi salah tafsir dalam konteks komunikasi sehari-hari maupun resmi. 

 

   SUMBER: 

  1. https://www.zenius.net/blog/homonim-homofon-homograf-dan-polisemi/