Menyampaikan Pesan Tanpa Hilang Maknanya

SHARE

Source of picture: https://www.dialograkyat.com/2021/06/strategi-organisasi/ 

   Dalam dunia penerjemahan, seorang penerjemah tidak hanya dituntut memahami bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa), tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan secara wajar, alami, dan mudah dipahami oleh pembaca. Dua jenis strategi penerjemahan yang paling umum digunakan adalah strategi struktural dan strategi semantis, menurut Suryawinata dan Hariyanto. Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang strategi penerjemahan struktural. Strategi ini penting karena sering kali perbedaan tata bahasa antara dua bahasa menuntut adanya penyesuaian agar hasil terjemahan tetap akurat dan berterima. 

   1. Penambahan (Addition) 

   Penambahan dilakukan ketika bahasa sasaran membutuhkan unsur tambahan agar kalimatnya sesuai dengan kaidah tata bahasa. Penambahan ini adalah keharusan, bukan pilihan. Misalnya, kalimat sederhana “Saya dokter” dalam bahasa Indonesia tidak bisa diterjemahkan mentah - mentah menjadi “I doctor”. Untuk membuatnya benar, harus ada tambahan kata “am” dan artikel “a”, sehingga menjadi “I am a doctor”. Contoh lain, “Saya tidak mengira kalau kamu bisa datang hari ini” harus diterjemahkan menjadi “I do not expect that you can come today”, di mana kata do ditambahkan demi struktur yang tepat. 

   2. Pengurangan (Subtraction) 

   Kebalikan dari penambahan, strategi ini mengharuskan penerjemah menghilangkan elemen tertentu dari bahasa sumber karena dalam bahasa sasaran elemen tersebut tidak dibutuhkan. Misalnya kalimat “You should go home” cukup diterjemahkan menjadi “Kamu mesti pulang.” Kata kerja “go” tidak perlu muncul dalam bahasa Indonesia karena makna sudah tersampaikan dengan jelas. Contoh lain adalah “Her husband is an engineer”, yang cukup menjadi “Suaminya insinyur” tanpa harus menyertakan kata adalah atau seorang. 

   3. Transposisi (Transposition) 

   Perubahan struktur kalimat atau frasa adalah bagian dari strategi ini. Kadang transposisi merupakan keharusan, tetapi sering juga menjadi pilihan untuk alasan gaya bahasa. Misalnya, dalam frasa “musical instruments”, posisi kata sifat diubah saat diterjemahkan menjadi “alat musik”. Begitu juga “two basic groups” yang berubah menjadi “dua kelompok dasar.” Bahasa Inggris menganut pola Menerangkan Diterangkan maksudnya yaitu kata yang mejelaskan muncul terlebih dahulu, sementara bahasa Indonesia cenderung kata benda atau kata menerangkan muncul terlebih dahulu, dan kata diterangkan muncul di belakangnya. Selain itu, transposisi juga bisa terjadi di level kalimat, misalnya “I find it more difficult to translate a poem than an article” lebih wajar diterjemahkan menjadi “Bagi saya menerjemahkan puisi lebih sulit daripada menerjemahkan artikel.” Dengan transposisi, pesan tetap tersampaikan meskipun strukturnya berubah. 

   4. Modulasi 

   Modulasi bisa dianggap sebagai bentuk khusus dari transposisi. Bedanya, modulasi menuntut penerjemah untuk mengubah sudut pandang atau cara berpikir agar hasil terjemahan terasa lebih alami. Misalnya, kalimat “I broke my leg” tidak diterjemahkan secara kaku menjadi “Saya mematahkan kakiku,” melainkan “Kakiku patah.” Perubahan fokus dari subjek ke objek membuat kalimat lebih sesuai dengan kebiasaan berbahasa Indonesia. 

   Dari keempat strategi struktural di atas, dapat kita lihat bahwa penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata demi kata. Ada saatnya penerjemah harus menambah, mengurangi, mengubah susunan, atau bahkan menggeser sudut pandang agar pesan tetap utuh sekaligus terasa alami. Itulah sebabnya penerjemahan bisa disebut sebagai seni dan sains sekaligus seni karena melibatkan kreativitas, dan sains karena mengikuti aturan bahasa yang jelas. 

   Bagi para penerjemah maupun calon penerjemah, pemahaman strategi ini dapat menjadi bekal berharga untuk menghasilkan terjemahan yang tidak hanya akurat secara makna, tetapi juga enak dibaca. Pada akhirnya, keberhasilan penerjemahan diukur bukan hanya dari kesetiaan pada teks sumber, tetapi juga dari kepuasan pembaca teks sasaran. 

 

 Source :

Suryawinata, Z., & Hariyanto, S. (2016). “Translation: Bahasan teori dan penuntun praktis menerjemahkan” (Edisi revisi). Malang: Media Nusa Creative.